Jumat, 05 Oktober 2012



SUPER ‘A’ (Budiman Hakim).

SUPER ‘A’ adalah rumusan dasar untuk menilai sebuah iklan.setiap hurufnya mengandung makna yang harus dimiliki oleh sebuah iklan yang bagus.

(S) simple.

sebuah iklan haruslah simple. kata simple sering diartikan orang sebagai sesuatu yang sederhana, sebagai sesuatu yang dapat dimengerti dengan sekali lihat. pengertian seperti itu mungkin tepat untuk peluncuran sebuah brand baru. untuk brand yang sudah mapan? belum tentu! dalam konteks ini, pengertian simple akan lebih tepat diartikan dengan tidak banyak elemen dan komunikatif.

komunikatif berarti mempunyai kekuatan untuk mengajak konsumennya berkomunikasi,sehingga konsumen dapat menemukan makna lain di balik makna yang terdapat di permukaannya. dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian simple dapat berubah sesuai dengan status brand yang akan diiklankan.

sebuah iklan yang baik, tampilan dan output-nya memang harus simple, tapi pemikirannya sama sekali tidak simple.

(U) unexpected.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dikelilingi dan diserang oleh iklan dari berbagai penjuru. dari ribuan iklan yang bertebaran itu, hanya beberapa saja yang bisa kita ingat. karena itulah, iklan yang smart akan menjadi outstanding. kemampuan sebuah iklan untuk menempatkan diri dalam otak, dikarenakan idenya yang unik. ide yang unik akan membuat sebuah iklan menjadi unpredictable.

Orisinalitas sebuah ide akan menjadikan iklan yang kita buat menjadi berbeda dengan ribuan iklan yang muncul di saat yang bersamaan. ide yang tidak disangka-sangka akan jauh lebih diingat oleh konsumennya. Lebih dihargai dan akhirnya akan menjadi top of mind – paling tidak dalam segment-nya. 

(P) persuasive.

persuasive sering juga disebut dengan daya bujuk. daya bujuk mempunyai daya pengaruh untuk menyihir orang untuk melakukan sesuatu. iklan dengan daya bujuk kuat hampir pasti akan menggerakkan konsumen untuk mendekatkan diri dengan brand kita dan tertarik untuk mencobanya. dasar pemikiran dalam pembuatan sebuah iklan, haruslah selalu dikonsentrasikan pada brand sebagai hero. 

Jangan terjebak dengan untuk menjadi kreatif dengan membuat hal yang unik tetapi tidak relevan dengan brand-nya. sangat sering orang teringat pada sebuah iklan namun mereka tidak dapat mengingat brand yang diiklankan. bagaimana orang mau terbujuk untuk membeli, bila brand-nya saja mereka tidak ingat sama sekali.

(E) entertaining.

dari banyaknya iklan yang ada, berapakah yang bisa menghibur kita? Tidak banyak! mungkin hanya ada beberapa yang terlintas di benak kita. selebihnya hanya iklan-iklan standar yang akan  terlewat begitu saja dari penglihatan dan ingatan. karena itu, entertaining tidak hanya berarti lucu! dalam skala yang lebih luas, entertaining berarti mampu mempermainkan emosi konsumennya. 

Bias membuat penonton tertawa, menyanyi, menari, menangis, terharu,pokoknya apapun dapat dilakukan semalam permainan emosi itu juga mengangkat simpati terhadap brand yang diiklankan.

(R) ‘Relevant’

Ide yang muncul untuk iklan bagaimanapun harus dikembalikan pada relevansi. Harus mampu dipertanggung-jawabkan, harus rasional, dan harus ada korelasi dengan brand, baik brand positioning, atau brand personality.

(A) ‘acceptable’.

poin ‘acceptable’ sengaja diletakkan di antara tanda kutip tunggal, karena poin ini lebih ditujukan pada penerimaan masyarakat pada iklan yang kita buat.ada banyak sekali iklan yang mengundang reaksi masyarakat karena dianggap melampaui nilai-nilai ketimuran yang kita anut.

masalahnya, masyarakat Indonesia sangat beragam budayanya, agamanya, bahasanya, gaya hidupnya dan akhirnya tentu saja tata nilainya. akibatnya buku tata krama periklanan yang dikeluarkan oleh P3I pun sulit sekali dijadikan pegangan baku.ada banyak grey area di sana.maka semuanya berpulang pada hati nurani masing-masing.karya yang fenomenal, sales-nya meningkat luar biasa dan diterima di seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Hakim, Budiman, 2006. Lanturan tapi Relevan. Yogyakarta: Galang


Sample Iklan Viagra

 


Sabtu, 29 September 2012

Efek Iklan



Kebanyakan uang yang dihabiskan oleh agen iklan adalah pada masa percobaan iklan dan sangat sedikit untuk mengevaluasi iklan tersebut. Padahal sebaiknya perusahaan mengiklankan dahulu di satu kota, mengevaluasi hasil/efeknya, baru jika berhasil beriklan secara nasional atau internasional.
Ada dua efek iklan, yaitu efek komunikasi (communication effect) dan efek penjualan (sales effect) yang kedua-duanya dapat diteliti.

1. Penelitian Efek Komunikasi
Penelitian efek komunikasi berusaha mengetahui apakah iklan yang dibuat dapat berkomukasi secara efektif. Ada metode yang disebut copy testing, yang dapat dilakukan sebelum dan sesudah ikan dipasang di media. Ada 3 metode utama untuk pengujian awal dari iklan yaitu:
a. Metode pemeringkatan langsung (direct rating method), yaitu metode yang menanyakan konsumen untuk memeringkat iklan yang dipasang. Rating digunakan untuk mengevaluasi perhatian terhadap iklan, pembacaan iklan, pengertian, pengaruh dan kekuatan tingkah laku. Semakin tinggi rating biasanya semakin efektif iklan tersebut.
b. Pengujian portofolio (portfolio tests) menanyakan konsumen untuk melihat dan atau mendengar sekumpulan (portfolio) iklan, berbicara selama yang mereka inginkan. Kemudian konsumen tersebut ditanyakan untuk menyebutkan kembali semua iklan tersebut dan isinya, ditambah, sama atau dikurangi oleh si penanya (interviewer). Tingkat penyebutan kembali ini menunjukkan kemampuan iklan untuk bertahan dan menyampaikan pesan yang dapat dimengerti dan diingat.
c. Pengujian laboratorium (laboratory tests) menggunakan peralatan untuk mengukur reaksi psikologis konsumen seperti detak jantung, tekanan darah, pelebaran pupil, keringat terhadap suatu iklan. Pengujian ini mengukur kekuatan menarik perhatian dari iklan tersebut tetapi tidak menunjukkan sama sekali pengaruh iklan terhadap kepercayaan, sikap atau minat.

2. Penelitian Efek Penjualan
Efek penjualan iklan biasanya lebih sukar diukur dibandingkan dengan efek komunikasi. Penjualan dipengaruhi banyak faktor disamping periklanan, seperti ciri produk, harga, ketersediaan dan kegiatan pesaing. Semakin sedikit atau semakin dapat dikendalikan faktor-faktor tersebut, semakin mudah untuk mengukur efek iklan terhadap penjualan. Efek penjualan paling mudah diukur pada situasi pemasaran langsung dan paling sukar diukur pada iklan untuk membangun citra brand atau perusahaan.
Satu pendekatan untuk mengetahui apakah perusahaan telah terlalu lebih atau kurang dalam menghabiskan uang untuk iklan adalah dengan formulasi berikut:
Peckhan telah mempelajari hubungan antara bagian dari suara (share of voice) dan pangsa pasar (share of market) untuk beberapa consumer product dan menemukan rasio 1 banding 1 untuk produk yang sudah mapan dan rasio 1,5 sampai 2 banding 1 untuk produk baru. Cara menentukan efektivitas iklan adalah sebagai berikut:
Jika ada tiga perusahaan A, B dan C. Pangsa pasar dibagi dengan share of voice (share of voice adalah pengeluaran iklan perusahaan dibagi dengan pengeluaran iklan industri) menghasilkan efektivitas iklan. Setelah dibandingkan ternyata efektivitas iklan perusahaan A adalah yang terkecil (pangsa pasar kurang dari share of voice), diikuti B (pangsa pasar sama dengan share of voice) dan yang paling efektif adalah C (pangsa pasar lebih dari share of voice).

Kesimpulannya:
a. Jika pangsa pasar kurang dari share of voice, maka perusahaan telah overspending atau misspending dalam beriklan.
b. Jika pangsa pasar sama dengan share of voice, maka perusahaan sudah efisien dalam beriklan.
c. Jika pangsa pasar lebih dari share of voice, maka perusahaan super efisien dalam beriklan. Peneliti mencoba mengukur pengaruh terhadap penjualan dengan menganalisa data historis atau data eksperimen:
d. Pendekatan historis (historical approach) mengkorelasikan penjualan yang lalu dengan pengeluaran iklan yang lalu pada satu basis sekarang atau diberi lag (tenggang waktu) melalui teknik statistik yang canggih untuk mengukur efek iklan terhadap penjualan.
e. Pendekatan eksperimen (experimental design) mencoba bereksperimen melalui cara percobaan pengeluaran yang tinggi (high-spending tests) dan percobaan pengeluaran yang rendah (low-spending tests). Jika high-spending tests menghasilkan peningkatan penjualan yang banyak maka perusahaan nampaknya underspending dalam beriklan. Jika high-spending tests gagal untuk meningkatkan penjualan dan jika low-spending tests tidak menurunkan penjualan, maka perusahaan telah overspending. Jika high-spending tests gagal meningkatkan penjualan dan low-spending tests malah menurunkan penjualan berarti perusahaan sudah efisien dalam beriklan.

Advertorial Penulisan



Advertorial adalah jenis artikel yang mempromosikan suatu produk dengan mengambil bentuk naskah editorial. Biasanya naskah ini digunakan untuk memperkenalkan suatu produk.
Tujuan
1. Mewakili lembaga/perusahaan dalam mengenalkan produk atau jasa
2. Mempersuasi khalayak
3. Mengedukasi khalayak dengan informasi lebih rinci
4. Membangun citra sekaligus popularitas

Formula Dalam Advertorial
Sama halnya dengan pembuatan iklan pada umumnya, advertorial pun harus memperhatikan formula AIDCA:
1. Attention; memecahkan perhatian pembaca dari berita editorial atau iklan lain. Perhatian dapat diraiih dengan memanfaatkan posisi dalam publikasi.
2. Interest; menarik pembaca/khalayak agar memperhatikan tulisan iklan yang dibuat.
3. Desire; pembaca/khalayak didorong untuk menginginkan produk/jasa yang diiklankan
4. Conviction; menampilkan fakta-fakta yang meyakinkan, bukti-bukti dari penampilan, kesaksian-kesaksian, dan fakta-fakta lain yang berkaitan dengan produk yang diiklankan
5. Action; mampu menimbulkan suatu respon.

Unsur Tulisan Dalam Advertorial
Unsur tulisan yang ada dalam teks iklan bisa menarik apabila memasukkan unsur;
1. Emosional; kebutuhan emosional dasar, antara lain: penampilan diri (self assertion), cinta kasih, persahabatan (companionship), pemeliharaan diri (self preservations), rasa ingin memiliki (acquitivenes), rasa ingin tahu, rasa aman dan kenyamanan.
2. Factual Hard Selling; teks menggunakan kaidah AIDCA yang sangat kompetetitif dan persuasif.
3. Faktual edukasional; iklan jenis ini lebih informatif.
4. Narasi; penulisan iklan yang menekankan pada iklan persuasif
5. Prestise; tulisan advertorial mempunyai unsur prestise dibanding bentuk iklan lainnya di media cetak maupun elektronik, karena mempunyai kolom yang khusus maupun perlakuan yang berbeda (harga) dibanding iklan lainnya.
6. Gambar serta keterangan; tulisan advertorial biasanya dilengkapi dengan gambar dari produk yang diiklankan juga dilengkapi dengan keterangan cara penggunaannya.
7. Monolog dan Dialog; Iklan bisa saja berupa testimonial yang disampaikan oleh orang/lembaga yang terkenal.
8. Pembaca (reader); tulisan advertorial akan menggugah minat pembacanya apabila apa yang menjadi kebutuhan pembacanya ada didalam tulisan tersebut. Pembaca seolah-olah terlibat secara emosi berada dalam tulisan advertorial.
9. Gimmick; tulisan advertorial yang dilengkapi dengan alat-alat / sarana pendukung promosi lainnya.
10. Kesaksian; daya tarik tulisan advertorial adalah adanya kesaksian dari si pengguna produk yang dipromosikan.
11. Kutipan; adanya kutipan dari para pakar / ahli / seperti dokter yang mendukung produk yang dipromosikan. Untuk produk seperti handphone misalnya kita bisa menuliskan kutipan pernyataan dari Roy Suryo, seorang pakar dibidang komunikasi dan telematika.